Tampilkan postingan dengan label Kisah Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Mualaf. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Agustus 2010

Beragam Kisah Keajaiban Islam Bagi Mualaf Belanda

Jumlah Muslim di Eropa semakin mengalami peningkatan pesat tiap tahunnya, termasuk dari mualaf. (Berita SuaraMedia)

Jumlah Muslim di Eropa semakin mengalami peningkatan pesat tiap tahunnya, termasuk dari mualaf. (Berita SuaraMedia)

AMSTERDAM (Berita SuaraMedia) – Lebih dari 500 orang menghadiri Hari Mualaf Tahunan Belanda yang Ketiga di Masjid besar Omar Al Farouk di kota Utrecht pada Minggu malam. Acara tersebut diselenggarakan oleh yayasan OntdekIslam dan Platform Nasional Belanda untuk Muslim Baru (LPNM).

Waleed Duisters, ketua LPNM, mengatakan pada kantor berita Kuwait, KUNA, bahwa statistik yang dirilis tahun 2007 menunjukkan bahwa terdapat 12.000 orang Belanda yang masuk ke agama Islam, sembari menambahkan bahwa jumlah aslinya mungkin lebih dari itu. Ia menjelaskan bahwa sangat sulit untuk memberikan angka pasti dari mualaf Belanda karena di negara itu tidak ada registrasi penduduk berdasarkan agama.

"Kami memiliki banyak mualaf baru karena itu tujuan dari konferensi ini adalah untuk membantu mereka menemukan jalannya baik dalam masyarakat Muslim maupun masyarakat Belanda pada umumnya," ujar Duisters yang masuk Islam 10 tahun lalu. Ia mengemukakan bahwa terkadang para mualaf baru menemui masalah karena pihak keluarga takut terhadap kepindahan itu dan masyarakat Muslim juga tidak tahu bagaimana harus berurusan dengan mualaf.

"Dalam masyarakat Belanda, terdapat orang-orang yang merasa skeptis terhadap Islam dan terkadang kami memiliki kasus mualaf yang menemui masalah besar dengan keluarga mereka. Kami ingin membantu mereka menjalani hidup tanpa ada masalah," ujar Duisters.

Pertemuan besar para mualaf Belanda dan kaum Muslim yang berasal dari Turki, dunia Arab, dan Suriname itu mendengarkan ceramah oleh beberapa pembicara internasional seperti Hussein Ye dari Malaysia dan Pierre Vogel dari Jerman serta para pembicara muda Belanda seperti Ali al Khattab dan Elsa van de Loo yang merupakan perwakilan generasi muda Belanda untuk PBB.

Tujuh warga Belanda, termasuk tiga wanita, memeluk Islam saat konferensi pada hari Minggu. Duisters mengatakan, "Islam telah memperkaya kehidupan saya. Saya memiliki hidup yang stabil. Saya tahu apa yang harus saya ajarkan pada anak-anak saya untuk menjadi Muslim yang baik dan warga negara Belanda yang baik."

Ia mengatakan bahwa jumlah Muslim di Eropa meningkat. Semakin banyak orang yang masuk agama Islam karena mereka banyak mendengar tentang Islam sehingga mereka ingin tahu mengenai agama ini dan mulai membaca Al-Quran dan Hadist.

Namun, ia juga menyalahkan kaum Muslim karena tidak berbuat banyak untuk menjelaskan Islam.

"Kaum Muslim di Belanda memiliki banyak kesempatan untuk memberikan gambaran yang baik namun seringkali mereka gagal melakukannya," keluhnya.

"Ada juga masalah lain bahwa kaum Muslim tidak berintegrasi ke dalam masyarakat Belanda," ujarnya.

"Kita harus hidup sebagai seorang Muslim di Belanda tapi juga di dalam masyarakat Belanda. Jika kita tidak melakukannya, kita akan tetap menjadi kelompok yang aneh. Kami menyarankan kepada kaum Muslim untuk terlibat dalam masyarakat Belanda," ujarnya.

Marck Reuvers, seorang jurnalis yang mengurusi pers dalam konferensi itu, mengatakan bahwa "ini adalah hari yang istimewa. Ini adalah yang disebut dengan hari mualaf di Belanda."

"Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk memperlihatkan bahwa kaum mualaf juga bagian dari umat yang lebih besar," ujar Reuvers yang masuk Islam di tahun 2007. "Saya mencari sesuatu yang membuat hidup saya lebih bermakna. Setelah menjadi seorang Muslim saya memiliki tujuan dalam hidup. Saya merasa sangat bahagia dan nyaman," ujarnya.

Abdel Krim masuk agama Islam pada tahun 2008. Kini ia bersiap menjadi pekerja sosial. "Saya membutuhkan Tuhan dalam kehidupan saya. Saya senang dengan kisah-kisah Ibrahim, Musa, Yesus, namun saya tidak suka gambar-gambar di dalam gereja dengan Tuhan berkulit putih," ujarnya.

"Namun saya terlalu mencintai Yesus dan Musa dan saya menemukan mereka dalam Islam. Peraturannya jauh lebih murni. Tidak ada rasisme dalam Islam," ujar Muslim muda Belanda berjenggot ini.

Ia mengatakan bahwa seorang mualaf harus menjelaskan banyak hal kepada masyarakat Belanda setelah masuk Islam. "Kau berhenti minum alkohol, berhenti merokok, berhenti menggunjing. Sehingga orang-orang di lingkunganmu akan bertanya mengapa kau tidak minum alkohol, mengapa kau memelihara jenggot," ujarnya.

Mallen van der Putten, yang juga merupakan seorang jurnalis yang bekerja untuk radio Islam Belanda, mengaitkan sebuah kisah aneh dengan kepindahannya ke Islam. Ia masuk Islam enam tahun lalu. Van der Putten mengatakan bahwa suatu hari ia mengatakan beberapa hal buruk pada seorang Muslim. Kemudian ia mengatakan pada dirinya sendiri, "Kenapa saya mengatakan hal-hal buruk tentang Islam sedangkan saya tidak tahu apa-apa tentangnya?". Kemudian ia pergi ke toko dan membeli beberapa buku Islam dan terus membaca hingga akhirnya ia masuk Islam.

Ia mengatakan bahwa kaum Muslim harus berbicara pada orang-orang, pada tetangga, untuk menjelaskan Islam dan harus terjadi interaksi.

Elsa van de Loo, perwakilan anak muda Belanda di PBB, mengatakan bahwa ia masuk Islam satu setengah tahun lalu.

Ayahnya adalah orang asli Belanda sedangkan ibunya berasal dari Republik Dominika.

"Saya dibesarkan sebagai seorang Katolik tapi tidak mempraktikkan ajarannya," ujarnya.

Mualaf muda ini mengatakan bahwa ia mulai membaca Al-Quran dalam bahasa Belanda.

"Awalnya sulit bagi saya untuk memahami dan saya tidak banyak mengenal Muslim yang dapat menjelaskannya pada saya. Kemudian suatu hari saya bertemu dengan seorang gadis Muslim dari Maroko yang mulai menjelaskan tentang Al-Quran dan Islam," ujarnya.

"Banyak pertanyaan yang jawabannya saya temukan dalam Islam."

"Saya merasa sangat senang, Islam memberikan saya kedamaian. Dulu, saya selalu merasa gelisah, saya tidak tahu apa yang saya lakukan dalam hidup ini. Kemana saya melangkah. Sekarang saya memiliki jawabannya."

Ia mengatakan belum pernah menemui masalah dengan pemerintah Belanda karena mengenakan jilbab namun beberapa kritikus mengatakan, "Bagaimana kau bisa mewakili Belanda di PBB dengan memakai jilbab?"

"Saya katakan pada mereka bahwa pekerjaan saya terpisah dari agama saya. Ketika saya sedang bekerja, saya mewakili setiap orang di Belanda dan apa keyakinannya tidak akan menjadi masalah. Saya terpilih untuk posisi ini," ujar Elsa van de Loo. (rin/kn)

www.suaramedia.com

Peter Sanders, Raja Fotografi yang Menemukan Islam

"Fotografi telah mengenalkan Islam kepada Barat," begitu kata Peter Sanders, fotografer kelas dunia yang juga pemilik Peter Sanders Photography Library seperti dikutip harian Al-Watan edisi 29 Januari 2008. Sanders menyatakan bahwa masyarakat Barat banyak yang tak tahu dan tak mengenal Islam secara benar.


Namun, peristiwa 11 September 2001 telah membawa masyarakat Barat untuk mengetahui Islam yang sebenarnya secara lebih mendetail. Termasuk, melalui hasil karya seni atau fotografi, seperti yang dihasilkannya. Karena, menurut Sanders, hasil fotografi yang indah akan lebih cepat memperkenalkan Islam kepada masyarakat Barat.

Sebagai salah satu fotografer legendaris dan ternama, Sanders terbilang unik. Ia tak pernah mengenyam pendidikan fotografi, sebagaimana umumnya para fotografer profesional. Sanders hanya belajar fotografi secara autodidak.

Kursus fotografi pertama Sanders justru dilakukan akhir 1990 di Swiss atau tiga dasawarsa setelah ia malang melintang di jagat fotografi. "Itu pun karena saya mendapat proyek di Arab Saudi yang menuntut penggunaan kamera format besar," tuturnya. Sanders muda mengaku sering kesulitan uang. Tapi, ia berani berspekulasi dengan menjadi seorang fotografer. Ia menjajakan karya-karyanya ke penerbitan, koran, majalah, atau sampul album musik.

Sanders mengaku terjun ke dunia fotografi hanya menuruti panggilan hatinya. Sebab, ia tak memiliki kemampuan dan keahlian yang bisa diandalkan. Lantaran hobi, ia merasa bakal mampu survive di dunia fotografi kendati tanpa harus memiliki titel mentereng.

Saat ini, Sanders memiliki Peter Sanders Photography Library. Ini semacam pepustakaan yang mendokumentasi karya Sanders sepanjang 39 tahun kariernya di dunia Muslim. Ada lebih dari 250 ribu foto dalam bentuk digital di situ. Ia menjualnya untuk keperluan majalah atau buku-buku tentang Islam.

Dunia fotografi profesional sudah Sanders tekuni lebih dari 50 tahun lamanya. Namun, tidak demikian dengan dunia spiritualnya saat ini. Sang fotografer kawakan kelahiran London, Inggris, 64 tahun silam ini memang tidak dilahirkan dari keluarga Muslim. Agama Islam sendiri baru dikenalnya pada saat ia melakukan perjalanan ke India pada 1970.

Ia mulai berkarier dalam dunia fotografi pada pertengan tahun 1960-an. Saat itu, fotografi yang sedang ngetrend adalah mengabadikan bintang-bintang musik terkenal. Begitu juga dengan Sanders. Ia berdiri di bibir panggung para superstar hanya untuk mengabadikan aksi panggung Bob Dylan, Jimi Hendrix, The Doors, The Who, atau Rolling Stones.

Namun, Sanders merasa jiwanya kering. Kejenuhan akan objek yang itu-itu saja dan persepsinya terhadap fotografi akhirnya membawa dia pada sebuah perjalanan yang rumit. Ia merasa dunia fotografi semakin tak menantang. Hal itu membuatnya semakin gelisah. Maka, pada 1970, ia mengembara hingga ke India.

Perjalanan ini pun membawa Sanders pada dunia yang belum pernah dikenalnya. Ia mulai mengenal Islam dan mencoba mempelajarinya. Semakin lama, ia makin terpesona dengan keindahan Islam. "Ketika itu, usia saya baru menginjak 24 tahun. Saya bertanya tentang mati. Usaikah diri kita setelah mati? Pertanyaan itu terus menghantui saya. Saya pergi ke India. Saya belajar Hindu, Buddha, Sikh, dan Islam," ungkapnya mengkisahkan awal mula perjalanannya menemukan Islam.

Saat berada di India, Sanders mengalami peristiwa yang amat berkesan. Pada suatu pagi, saat tengah menunggu kereta api di stasiun yang penuh dengan orang dan hiruk pikuk keramaian, seorang ibu tiba-tiba menggelar tikar di dekatnya. Ibu tersebut lantas melakukan gerakan shalat di situ. Hal ini mengejutkan Sanders. Sebab, selama ini dia memang belum pernah melihat orang shalat.

Kemudian, Sanders bertanya kepada seorang anak muda yang berdiri di dekatnya. "Apakah ini?" Anak muda tersebut menjawab, "Ini nenek saya. Dia seorang Muslim. Ia sedang shalat." Momen tersebut terus terekam dalam ingatannya.

Setelah perjalanan ke India tersebut, ia kembali ke Inggris dan mendapati teman-teman lamanya banyak yang terjerumus dalam penggunaan narkoba. Namun, beberapa orang temannya ada yang menjadi Muslim dan terhindar dari dunia narkoba dan kehidupan malam. Dari sini, ia seakan mendapatkan petunjuk. "Inilah jalan yang harus saya tempuh." Begitu batinnya mengatakan. Akhirnya, ia memutuskan masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Abd al-Adheem.

Di sebuah koran beberapa tahun lalu, Sanders membuka rahasia mengapa ia memilih Islam. Menurutnya, tak ada yang menariknya kepada agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW, selain yang menciptakan manusia. "Tuhanlah yang memilihkan untuk saya," katanya.

Maka, seusai mendeklarasikan keislamannya ini, Sanders tampak makin bersahaja. Ia tak lagi merasa kering dan gersangnya hati. Islam memberi roh pada pekerjaannya. Islam juga mengilhaminya pada sebuah jalan baru untuk makin menekuni dunia fotografi, namun dengan objek yang berbeda.

Tahun itu juga, Sanders memutuskan pensiun menjadi fotografer selebriti. Ia memulai pengembaraannya ke negeri-negeri Muslim. Tiga bulan setelah masuk Islam, ia berkesempatan menunaikan ibadah haji ke Makkah atas biaya dari seorang kenalannya.

Saat menunaikan ibadah haji, Sanders mendapat kesempatan untuk memotret Ka'bah dan lautan jamaah haji dari jarak dekat. Pada tahun 1971, saat itu masih terbilang sulit untuk bisa mengambil gambar di Makkah dan Ka'bah pada khususnya serta lokasi lain di Arab Saudi.
Namun, berkat keuletannya, dia mendapatkan izin dari orang yang tepat dan terpandang di Arab Saudi saat itu.

Foto-foto perjalanan spiritualnya dimuat di media-media utama Barat untuk pertama kalinya, seperti The Sunday Times Magazine dan The Observer. Dan, mulai saat itulah, Peter Sander alias Abd AlAdheem makin terkenal.

Red: irf
Rep: Nidia Zuraya